Zakat

Pengertian zakat

Secara bahasa zakat bermakna ​an-namaa’  artinya tumbuh dan berkembang, dan ath-thahaarah artinya suci. Dalam bahasa arab disebutkan zakaa az-zar’u idza namaa, ​ tanaman itu berkembang jika ia tumbuh. Adanya pengertian secara bahasa ini menunjukkan bahwa kata zakat sudah ada sebelum Islam datang. Secara istilah zakat adalah

Hak yang wajib ditunaikan pada harta tertentu, pada waktu tertentu dan untuk golongan tertentu.”

Al-Maal , harta secara bahasa adalah

Sesuatu yang jiwa cenderung kepadanya” Dan secara istilah harta adalah segala sesuatu yang memiliki manfaat yang mubah.

Kewajiban zakat pada harta tertentu bukan pada semua harta.

Kewajiban zakat pada waktu tertentu, bukan setiap waktu. Beberapa jenis harta, zakatnya wajib ditunaikan setelah berlalu haul atau 1 tahun.

Tahun disini adalah tahun qamariyah yang jumlah harinya adalah 354 hari. Dan zakat untuk golongan tertentu, bukan untuk semua orang, sebagaimana dalam firman Allah QS.at-Taubah: 60.

Berbeda dengan sedekah, sedekah tidak pada harta tertentu, tidak pada waktu tertentu, tidak untuk golongan tertentu. Sedekah boleh dengan harta apa saja, kapan saja, untuk siapa saja.

Zakat adalah Rukun Islam

Zakat merupakan rukun Islam, sebagaimana dalam hadits Jibril ​‘alaihissalaam, Ketika nabi shallallahu’alaihi wasallam ​ditanya tentang islam beliau menjawab:

Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah” (HR. Muslim)

Para ulama sepakat bahwa zakat hukunya wajib, al-Imam Ibnul Mundzir​rahimahullah menjelaskan bahwa zakat adalah suatu kewajiban yang ​ma’luumun minaddiin bidh dharuurah, setiap muslim telah mengetahuinya.

Di antara dalil wajibnya zakat adalah sabda nabi​shallallahu’alaihi wasallam
​ kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ketia Beliau mengirimnya ke Yaman:

Jika mereka mentaatimu untuk melaksanakan shalat, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, dan diserahkan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (Mutafaq Alaih)

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa zakat itu diambil, yaitu pemerintah yang mengambil. Di negara-negara Islam yang menerapkan syariat zakat, harta zakat ditarik oleh pemerintah, sehingga walaupun masyarakat tidak faham tentang zakat, maka in syaa Allah penunaiannya sesuai syariat. Dan kita kaum muslimin di Indonesia lebih wajib lagi mempelajari zakat karena pemerintah tidak mewajibkan zakat kepada masyarakat.

Dalam islam tidak ada pemutihan zakat, sehingga kewajiban-kewajiban zakat yang telah lalu dan belum ditunaikan tetap dalam tanggungan seorang muslim untuk ia menunaikannya.

Sesuatu yang wajib adalah sesuatu yang jika dikerjakan pelakunya mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan ia berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At Taubah: 34)

Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah: 35)

Orang-orang yang menumpuk harta yang diancam dengan azab dalam ayat di atas adalah orang-orang yang berkewajiban menunaikan zakat namun ia tidak menunaikan.

Orang yang menunaikan zakat, dan memiliki banyak simpanan harta, ia tidak terancam dengan ancaman ayat di atas.