Harta Zakat Tidak Boleh Diberikan Kepada

Harta zakat tidak halal untuk:

  1.  Orang kaya.
  2. Orang kuat yang mampu bekerja mendapatkan harta.
  3. Keluarga nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, mereka adalah Bani Hasyim dan keturunan mereka.
  4. Orang yang dalam tanggungan muzakki saat ia wajib mengeluarkan zakat.
  5. Non muslim.

Adapun sedekah tathawwu’ (sunnah) maka boleh untuk mereka dan untuk selain mereka. Tetapi ketika sedekah semakin bermanfaat secara umum atau pun khusus, maka itu lebih sempurna. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Barang siapa yang meminta harta kepada manusia dalam rangka memperbanyak harta, maka sesungguhnya ia sedang meminta bara api, maka terserah ia minta sedikit atau banyak“. (HR. Muslim)

Dan nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah berkata kepada Umar radhiyallahu’anhu:

Harta apa saja yang datang kepadamu sedangkan engkau tidak berambisi terhadapnya, dan tidak juga meminta, maka ambillah, namun jika tidak demikian maka jangan kau ikuti hawa nafsumu“. (HR. Muslim)

Penjelasan:

Harta zakat tidak halal untuk orang kaya. Orang kaya adalah orang yang berkecukupan, orang yang terpenuhi semua kebutuhan pokoknya. Keadaan kaya tidak bisa dipukul rata dengan gaji tertentu, karena keadaan berbeda-beda tergantung tempat dan kebiasaan. Seseorang yang tinggal di Yogyakarta dengan gaji Rp 5.000.000,00 bisa saja ia berkecukupan, berbeda dengan seseorang yang juga mendapatkan gaji Rp 5.000.000,00 setiap bulan namun ia tinggal di Jakarta di mana kebutuhan-kebutuhan serba mahal.

Zakat tidak halal bagi orang yang kuat dan memiliki profesi. Bisa jadi seseorang yang memiliki tubuh yang kuat, namun ia tidak memiliki profesi, sudah mencari kesana kemari namun belum juga dapat pekerjaan. Terlebih lagi pada saat terjadi wabah dimana masyarakat banyak yang diPHK. Sebagian ulama berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kemampuan bekerja, namun karena situasi ia tidak bisa bekerja sesuai kemampuannya, maka bukan berarti ia harus  menerima pekerjaan apa saja. Seperti lulusan S1 IT, bolehkah ia bekerja di rumah makan sebagai tukang pencuci piring? Kalau boleh maka boleh, namun tidak wajib karena pekerjaan tersebut tidak sesuai untuk dirinya sehingga ia berhak menerima harta zakat.

Dikisahkan bahwa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu’anhu sehari setelah beliau diangkat sebagai khalifah yang menguasai 2/3 dunia saat itu, ia berdagang seperti biasa di pasar Madinah. Pada pagi hari ia panggul kain dagangannya untuk ia jual di pasar. Khalifah Abu Bakar radhiyallahu’anhu bertemu Umar radhiyallahu’anhu dimana beliau ketika itu sebagai penanggungjawab Baitul mal. Ia bertanya:

Hendak kemana wahai khalifah?

Abu Bakar radhiyallahu’anhu menjawab:

Ke pasar

Maka Umar radhiyallahu’anhu berkata:

“Kalau engkau ke pasar maka siapa yang akan mengurus ummat nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam?”

Abu Bakar radhiyallahu’anhu Menjawab:

Kalau saya tidak ke pasar, siapa yang mengsisi perut anak dan istri saya?

Maka Umar radhiyallahu’anhu berkata:

Engkau tidak boleh ke pasar. Dan untuk biaya hidupmu kami akan berikan dua ekor kambing setiap dua hari sekali.”

Maka tidak halal harta zakat bagi orang yang kuat dan memiliki profesi, kecuali seperti penjelasan diatas.

Harta zakat tidak halal bagi keluarga Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Keluarga nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam yang dimaksud adalah Bani Hasyim, keturunan Hasyim. Hasyim adalah ayah dari kakek Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam Abdul Muththalib (Syaibatul Hamdi). Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Maka keturunan Hasyim, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain tidak berhak menerima zakat. Demikian juga dengan Ja’far anak Abu Thalib dan keturunannya tidak berhak menerima zakat. Hal ini berdasarkan sabda nabi shallahhu’alaihi wasallam:

Sesungguhnya zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, zakat adalah kotoran manusia.” (HR. Muslim 1072, An-Nasai 2609, dan yang lainnya).

Zakat tidak halal bagi orang yang wajib ia nafkahi pada saat mengeluarkan zakat.

Madzhab Maliki berpendapat bahwa orang-orang yang wajib dinafkahi adalah al-ashlul qariib yaitu ayah dan ibu serta al-far’ul qariib yaitu anak laki-laki atau pun perempuan.

Madzhab Syafi’i berpendapat lebih luas yaitu bahwa kakek nenek dan para cucu juga wajib dinafkahi. Adapun kepada orang yang tidak wajib dinafkahi maka zakat boleh diserahkan kepadanya, seperti istri tidak wajib menafkahi suami, maka istri boleh menyerahkan zakat kepada suaminya yang miskin misalnya.

Berkaitan dengan hal ini sedikit atau pun banyak tentu kita mesti memahami pembahasan tentang warisan.

Kemudian selanjutnya harta zakat tidak halal bagi non muslim, kecuali yang dibujuk untuk masuk Islam.

Adapun sedekah tathawwu’ (sunnah) maka boleh untuk mereka dan untuk selain mereka. Tetapi ketika sedekah semakin bermanfaat secara umum atau pun khusus, maka itu lebih sempurna. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Barang siapa yang meminta harta kepada manusia dalam rangka memperbanyak harta, maka sesungguhnya ia sedang meminta bara api, maka terserah ia minta sedikit atau banyak“. (HR. Muslim)

Fenomena yang banyak terjadi adalah Ketika ada pembagian sedekah tau zakat banyak orang yang tidak berhak namun juga berambisi untuk mendapatkannya. Maka dalam hal ini hendaknya petugas penarik dan penyalur zakat memperhatikan dengan teliti siapa yang berhak menerima zakat dan siap yang tidak berhak.

Dan nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah berkata kepada Umar radhiyallahu’anhu:

Harta apa saja yang datang kepadamu sedangkan engkau tidak berambisi terhadapnya, dan tidak juga meminta, maka ambillah, namun jika tidak demikian maka jangan kau ikuti hawa nafsumu“. (HR. Muslim)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *