Zakat Piutang

Zakat Piutang

Seseorang yang memiliki piutang dan harta yang tidak diharapkan dapat diterima, seperti piutang pada orang yang tidak berniat membayar, atau piutang pada orang yang tidak mampu untuk membayar, tidak ada kewajiban zakat pada harta seperti ini. Namun jika ternyata piutang tersebut dapat diharapkan untuk dibayar, maka ada kewajiban zakat padanya.

Penjelasan:

Seseorang yang memiliki piutang dan harta yang tidak diharapkan dapat diterima, seperti piutang pada orang yang tidak berniat membayar, atau selalu menunda-nunda pembayaran, atau piutang pada orang yang tidak mampu untuk membayar, tidak ada kewajiban zakat pada harta seperti ini. Namun jika ternyata piutang tersebut dapat diharapkan untuk dibayar, maka ada kewajiban zakat padanya.

Disini penulis asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir rahimahullah menjelaskan tentang zakat piutang, dan beliau tidak menjelaskan tentang zakat hutang. In syaa Allah setelah membahas zakat piutang akan kita bahas zakat hutang.

Dalam bahasa arab hutang dan piutang sama-sama menggunakan kata ad-dain. Jika seseorang berhutang kepada orang lain, seperti ia menjual barang kepada orang tersebut dengan pembayaran tidak tunai, atau ia meminjamkan uang kepada orang tersebut, maka piutang baginya dalam bahasa arab disebut lahu dain atau dain lahu. Jika ada seseorang yang berhutang kepada orang lain, seperti membeli barang dari orang tersebut dengan pembayaran tidak tunai,. atau meminjam uang orang lain maka dalam bahasa arab disebut ‘alaihi dain.

Perlu diketahui bahwa kata dain lebih luas dari kata qardh, dalam bahasa Indonesia qardh disebut hutang, namun dalam ilmu fikih disebut

Meminjam suatu harta dan mengembalikan gantinya.

Seperti seseorang meminjam emas dari saudaranya untuk ia jual dan ia gunakan untuk modal usaha, dimana ia wajib mengganti emas yang ia pinjam pada waktu yang telah disepakati. Yang seperti ini disebut dengan qardh yang juga termasuk dalam kategori hutang.

Hutang atau dain lebih luas dari qardh. Hutang dalam bentuk jual beli juga disebut dain. Contohnya Ahmad membeli rumah dari Muhammad dengan cara tiga kali bayar dalam waktu 1 tahun. Pembayaran pertama membayar 30%, enam bulan kemudian pembayaran kedua 30%, enam bulan kemudian pembayaran ketiga sebesar 40%. Kasus seperti ini disebut dengan dain bukan qardh. Perbedaannya adalah bahwa akad qardh adalah akad tabarru’ yaitu berderma dimana si pemberi qardh tidak boleh mendapatkan keuntungan, karena keuntungan bagi pemberi qardh adalah riba.

Adapun dain yang bentuknya adalah jual beli, si penjual boleh medapatkan keuntungan dari selisih harga beli objek jual beli dengan harga jual. Dan Ketika akad jual beli sudah terjadi di mana objek jual beli telah diterima pembeli dengan pembayaran tidak tunai, pembayaran tidak tunai di sini disebut dain yang nilainya tetap dari awal akad dan tidak boleh bertambah, ketika bertambah, tambahan tersebut adalah riba.

Piutang yang tidak lancar, seperti piutang pada orang yang tidak berniat membayar hutang atau selalu menunda-nunda pelunasan hutang, atau piutang pada orang yang tidak mampu melunasi, seperti perusahaan yang pada awal akad jual beli mampu membayar cicilan, namun ternyata perusahaan itu bangkrut sehingga tidak mampu membayar. Piutang yang seperti ini tidak ada kewajiban zakat di dalamnya.

Dalam hal ini secara tersirat penulis menjelaskan jika piutang yang dimiliki seseorang adalah piutang lancar, kapan saja ditarik maka memungkinkan untuk ditarik, seperti tabungan pada bank Syariah, kapan saja ingin diambil bisa, maka piutang yang seperti ini termasuk harta yang dikeluarkan zakatnya.

Jika seseorang memiliki uang cash yang telah sampai nisab dan telah sempurna haulnya, pada saat itu juga ternyata ia memiliki uang tabungan di bank Syariah, maka uang tabungan tersebut juga merupakan uang yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Demikian juga merupakan contoh adalah seseorang yang memiliki usaha material, diantara pembelinya yang membeli material secara tidak tunai adalah sebuah perusahaan yang dapat membayar hutangnya tepat waktu, maka piutang ini misalnya sebesar Rp 300.000.000,merupakan harta yang dikeluarkan zakatnya.

Untuk kasus piutang tidak lancar yang kemudian menjadi lancar, seperti piutang pada orang yang tidak mampu membayar, kemudian pada suatu waktu ia mendapat rezeki dan kemudian membayar hutanganya, bagaiamana menunaikan zakatnya?

Perihal mengeluarkan zakatnya terdapat perbedaan pendapat diantara ulama.

Sebagian ulama berpendapat zakatnya hanya dikeluarkan sekali saja. Jika piutang telah berlangsung beberpa tahun, maka beberapa tahun sebelumnya tidak ada kewajiban zakatnya.

Terkait permsalahan ini, para ulama membahas tentang mukaafa-atul Khidmah yaitu uang pesangon. Di mana uang ini dibayarkan kepada karyawan ketika ia pensiun atau berhenti dari bekerja. Uang pesangon ini sebagiannya adalah uang yang dipotong dari setiap gaji karyawan tersebut, dan sebagian lagi pemberian dari perusahaan. Jika diperkirakan pada tahun kesepuluh dari masa bekerja, uang yang dipotong dari gaji karyawan tersebut yang diserahkan kepada  suatu lembaga untuk mengelolanya telah mencapai nisab, apakah pada tahun ke sebelas hingga diterimanya pesangon mislanya tahun ke 30 wajib dikeluarkan zakatnya?

Jawabannya tidak, karena pemilik uang tersebut tidak dapat menggunakannya, ini adalah pendapat yang terkuat dalam permasalahan ini.

Pembahasan selanjutnya adalah dain ‘alaihi, seseorang yang berhutang kepada pihak lain. Jumhur para ulama berpendapat bahwa hutang memotong kewajiban zakat, dengan syarat hutang tidaklah dibayar kecuali dengan harta zakat terkait hutang tersebut, seperti dari barang dagangan yang dibeli secara tidak tunai yang merupakan sebab adanya hutang tersebut, dimana ia tidaklah membayar hutang kecuali jika barang tersebut laku. Misalnya ia memiliki harta yang wajib zakat adalah Rp 1.000.000.000,-, kemudian ada hutang barang yang belum dibayar dan sudah jatuh tempo, misalnya hutangnya sebesar Rp 15.000.000,- maka dikeluarkan Rp 15.000.000,-. Sehingga harta zakat tersisa Rp 985.000.000,- dikalikan 2,5%.

Menurut ulama madzhab Syafi’i dan ini yang difatwakan oleh asy-Syaikh Bin Baz dan asy-Asyaikh al-‘Utsaimin rahimahumallah bahwa hutang tidak menghalangi zakat, kecuali kalau yang berhutang membayar hutangnya sebelum waktu perhitungan zakat. Misalnya seseorang wajib mengeluarkan zakat hari ini, dimana harta zakatnya adalah Rp 1.000.000.000,-, pada hari sebelumnya ia melunasi hutang-hutang sebesar Rp 200.000.000,-, sisa harta zakat adalah Rp 800.000.000,-. Sehingga harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah Rp 800.000.000,-. Hal ini berdasarkan atsar yang shahih yang di Riwayat al-Imam Malik dalam Kitab al-Muwaththa’, Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mengatakan:

Ini adalah bulan zakat kalian. Barangsiapa punya hutang hendaklah dia menunaikan hutangnya, sehingga harta kalian bisa dihitung dan diambil zakatnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *