Zakat Hasil Bumi

Zakat Hasil Bumi

Adapun terkait zakat hasil bumi berupa biji-bijian dan buah-buahan; Nabi shallallahu’alaihi wassallam bersabda:

Tidak ada kewajiban zakat pada takaran kurma yang kurang dari 5 wasaq” (Muttafaqun ‘alaih)

Wasak adalah takaran yang setara dengan 60 sha’, sehingga nishab biji-bijian dan buah-buahan adalah 300 sha’ berdasarkan sha’ nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Tanaman yang diairi oleh hujan (tadah hujan), mata air atau mendapatkan air tanpa dialiri, maka zakatnya adalah 10%, sedangkan yang diairi dengan pengairan maka zakatnya adalah 5%“. (HR. Bukhari).

Sahabat Sahl bin Abi Hatsmah radhiyallahu’anhu meriwayatkan: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan kepada kami:

Jika kalian menaksir hasil panen, maka ambil dan tinggalkanlah sepertiganya, jika kalian tidak mengambil sepertiganya, maka tinggalkanlah seperempatnya.” (HR.Ahlus Sunan)

Penjelasan:

Zakat Hasil Bumi

Adapun terkait zakat hasil bumi berupa biji-bijian dan buah-buahan; Biji-bijian adalah seperti gandum, beras dan lain sebagainya. Biji bijian -iasanya sekali tanaman sekali panen saja. Kalau buah-buahan biasanya sekali tanam, pohon bisa bertahan lama, sampai beberapa puluh tahun, bisa dipanen berkali-kali, seperti kurma.

Penulis mengungkapkan zakat hasil bumi dengan ungkapan sesuatu yang tumbuh diatas tanah.

Sebagian ulama berpendapat bahwa apapun yang tumbuh dari tanah wajib dizakatkan, baik mengenyangkan atau pun tidak, seperti sayuran, jambu, rambutan, selama tumbuh di muka bumi maka dikeluarkan zakatnya. Ini adalah pendapat mazhab Hanafi. Berdasarkan keumuman firman Allah ‘azza wajalla:

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) Sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu”. (Qs.al-Baqarah:267)

Maka menurut mazhab Hanafi, semua yang keluar dari bumi wajib dizakatkan berdasarkan keumuman ayat di atas, yaitu tepatnya pada firman Allah:

Dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu

Ayat tersebut menunjukkan makna yang umum atau universal, yaitu segala sesuatu yang tumbuh dari bumi, berupa padi, jagung, gandum, kangkung, jambu, rambutan, semangka, cabe dan lain sebagainya.

Namun pendapat ini tidak kuat, karena pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ada buah-buahan, seperti delima, tin, zaitun dsb, tetapi tidak pernah diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengeluarkan zakat atau memerintahkan untuk mengeluarkan zakat dari buah-buahan tersebut. Sehingga para ulama memahami bahwa ayat Al-Qur’an di atas merupakan ayat yang bermakna umum namun maksudnya adalah khusus (pada hasil bumi tertentu), yaitu hasil bumi yang dikeluarkan zakatnya pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam seperti gandum burr, gandum sya’ir, kurma dan zabib (anggur kering) yang semuanya adalah makanan pokok.

Makanan pokok adalah makanan yang jika seseorang hanya memakannya ia bisa bertahan hidup. Misalnya seseorang hanya dengan makan nasi ia dapat bertahan hidup, dan beras bisa disimpan dan tahan lama. Berarti beras adalah makanan pokok sehingga termasuk harta zakat. Ibunda Aisyah radhiyallahu ’anha bercerita:

Dulu kami pernah melihat hilal hingga tiga kali hilal selama dua bulan, sementara di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang menyalakan api.”

Lalu ada yang bertanya dengan apa mereka hidup, beliau menjawab:

Al Aswadaan, : kurma dan air”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berarti dengan kurma saja orang bisa bertahan hidup. Maka kurma adalah makanan pokok.

Dan pendapat yang terkuat adalah pendapat yang kedua.

Nabi shallallahu’alaihi wassallam bersabda:

Tidak ada kewajiban zakat pada kurma yang takarannya kurang dari 5 wasak” (Muttaqfaun ‘alaih).

Wasaq adalah takaran yang setara dengan 60 sha’, sehingga nishab biji-bijian dan buah-buahan adalah 300 sha’ berdasarkan sha’ nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Sha’ adalah ukuran volume. Saat ini tidak ada sha’ nabi shallallahu’alaihi wasallam. Sha’ yang pernah ditemukan adalah sha’ yang sanadnya sampai ke sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu di mana dengan sha’ tersebut Zaid menakar di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Para ulama ahli fikih menjelaskan bahwa 1 sha’ sama dengan 4 mud, mud adalah ukuran genggaman dua telapak tangan.3 Maka nisab harta hasil bumi adalah 4 x 300 sha’= 1200 mud.

Ukuran 1 sha’ dalam satuan kilogram yang dikeluarkan berbagai Lembaga fatwa berbeda-beda. Hal ini beranjak dari tidak mungkinnya disamaratakan konversi mud atau sha’ ke kilogram, karena mud atau sha’ adalah ukuran volume dan kilogram adalah ukuran berat, sedangkan kepadatan hasil panen berbeda-beda.

  1. Cara mudah saat ini untuk menentukan nisab hasil panen saat ini adalah:
    Menggunakan (menyiapkan) timbangan digital, yang terdapat 3 digit angka setelah koma.
  2. Anda ambil beberapa mud hasil panen dari beberapa karung, dari bagian atas (karung, tengah dan bawah. Mengingat kepadatan dan kelembaban hasil panen bisa jadi berbeda-beda.
  3. Timbang beberapa mud yang anda ambil tersebut dengan timbangan digital, kemudian ambil rata-ratanya.
  4. Misalnya hasil rata-rata yang anda dapatkan adalah 600 gram, maka nisab hasil panen anda adalah 600gr x 1200 720.000 gram = 720 kg.
  5. Kemudian timbang semua hasil panen anda untuk mengetahui apakah mencapai nisab (720kg) atau tidak. Jika seandainya hasil panen anda adalah 780 kg, berarti mencapai nisab. Jika seandainya hasil panen anda adalah 695kg berarti belum mencapai nisab.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Tanaman yang diairi oleh hujan (tadah hujan), mata air atau mendapatkan air tanpa dialiri, maka zakatnya adalah 10%, sedangkan yang diairi dengan pengairan maka zakatnya adalah 5%. (HR. Bukhari).

Mendapatkan air tanpa dialiri, maksudnya tidak perlu ada air menggenang, karena Sebagian tanaman akarnya menjalar kemana-mana mencari air.

Jika ada pertanyaan, kenapa zakat pertanian sangat besar bisa sampai 10%? Sedangkan zakat uang atau perniagaan hanya 2,5%?

Pertama, ini adalah ketetapan Allah, wajib bagi kita mentaatinya.

Kedua, diantara hikmahnya adalah karena usaha untuk mendapatkan uang seperti dengan perniagaan lebih besar dari pada usaha pertanian. Usaha petani di antaranya membajak tanah, kemudian menanam, kemudian mengairi, kemudian menunggu hingga panen atau sedikit pengawasan dan perawatan kemudian sisanya ia bertawakkal kepada Allah. Ini diantara hikmahnya, namun yang jelas jika Allah dan rasul-Nya menetapkan maka kita ikuti.

Tanaman yang diairi oleh hujan (tadah hujan), mata air atau mendapatkan air tanpa dialiri, maka zakatnya adalah 10%.

Dan tanaman yang diairi dengan pengairan maka zakatnya adalah 5%. Pengairan disini (pada zaman dahulu) adalah menggunakan hewan.

Sahabat Sahl bin Abi Hatsmah radhiyallahu’anhu meriwayatkan: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan kepada kami (para penarik zakat):

Jika kalian menaksir hasil panen, maka ambil dan tinggalkanlah sepertiganya, jika kalian tidak mengambil sepertiganya, maka tinggalkanlah seperempatnya.” (HR.Ahlus Sunan)

Menaksir di sini maksudnya adalah memperkirakan, dan memang ada orang yang memiliki pengalaman dan mampu menaksir hasil panen. Dari hasil perkiraan tersebut petugas penarik zakat menarik zakat.

Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah menguji para sahabatnya radhiyallahu’anhum dalam perjalanan menuju perang Tabuk ketika melewati kebun kurma, menurut kalian kebun kurma ini berapa kira-kira hasil penennya?. Ada yang mengatakan sekian, dan sekian. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menyebutkan pendapatnya. Setelah Kembali dari perang Tabuk, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada pemilik kebun berapa hasil panennya. Pemilik kebun itu pun menjawab sama seperti yang ditaksir oleh nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Setelah menaksir dan setelah panen, petugas penarik zakat tidak mengambil zakatnya 100%, tetapi meninggalkan 30% atau 25%nya. Misalnya hasil panen adalah 1 ton, maka zakat yang ditarik tidak 100 kg, melainkan ditinggalkan 33 kg atau 25kg.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *