Zakat Harta Perniagaan Bagian Pertama

Zakat Harta Perniagaan Bagian Pertama

Harta perniagaan adalah harta yang dipersiapkan untuk diperjualbelikan dengan tujuan keuntungan.

Harta perniagaan (jika telah mencapai nishab) dan telah sampai satu tahun, dinilai dengan nilai yang paling bermanfaat untuk orang-orang miskin dari nilai emas atau perak. Kadar zakat harta adalah 2,5%.

Penjelasan:

‘Uruudh at-tijaarah (harta perniagaan)

‘Al-Uruudh dalam bahasa Arab merupakan bentuk plural dari al-‘ardh. ‘Ardh adalah semua harta selain emas, perak dan mata uang, seperti sapi, rumah, tanah, beras dan lain sebagainya. Adapun uang kartal adalah disebut dengan mal atau atsmaan.

Harta-harta yang tidak disebutkan dalam al-qur’an atau pun as-sunnah sebagai hara zakat, maka tidak ada kewajiban zakatnya. Seperti seseorang memiliki tanah dan pasir, maka pada dasarnya tidak ada kewajiban zakatnya. Harta-harta seperti inilah yang disebut dengan al-‘ardh.

Dan at-tijaarah artinya adalah perdagangan atau perniagaan. Perdagangan adalah kegiatan menerima barang dengan membeli atau selain membeli dengan niat menjual barang tersebut dengan tujuan mendapatkan keuntungan.

Jika ada seseorang membeli ruko dan tanah, maka pada dasarnya tidak ada kewajiban zakat atasnya. Jika ia menyewakan ruko tersebut, maka uang hasil sewanya merupakan harta zakat.

Jika seseorang membeli tanah dan ia mengatakan jika nanti harga tanah ini naik saya akan menjualnya, berarti ia berniat at-tijaarah, yaitu berniat mendapatkan selisih dari harga beli dan harga jual, seperti harga beli adalah Rp.100.000,- per meter persegi, kemudian ketika harga naik menjadi Rp. 500.000,- per meter persegi ia menjualnya. Inilah yang disebut harta perniagaan.

Adapun orang-orang yang menjual barang atau asetnya bukan untuk mendapatkan selisih harga, maka yang seperti ini bukan harta periagaan, sehingga tidak ada kewajiban zakatnya.

Niat membeli barang untuk at-tijaarah harus niat yang murni 100% tidak bercampur dengan niat yang lain. Seperti seseorang membeli tanah, ketika ditanya apakah ia berniat berniaga dengan tanah tersebut ia menjawab: ya nanti lihat saja yang penting saya sudah memiliki tanah ini. Kalau nanti suatu saat daerahnya menjadi tempat yang strategis untuk ditempati, maka saya akan bangun rumah diatasnya untuk tempat tinggal. Kalau suatu saat daerahnya menjadi strategis untuk perniagaan, saya akan bangun diatasnya ruko kemudian akan saya jual. Yang seperti ini bukanlah harta perniagaan karena niat ketika membeli tidak murni untuk berniaga.

Jika ada seseorang yang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, maka akan terkumpul dalam jumlah tertentu, untuk menghindari inflasi dan habis terpakai ia membeli tanah dengan uang tersebut, apakah yang sepert ini ada zakatnya?

Hal seperti ini perlu dirincikan. Perlu ditanyakan kepadanya:

Apa niat anda membeli tanah dengan menyimpan uang tadi?

Jika ia menjawab:

Ya namanya menyimpan uang, jika suatu saat saya butuh uang maka saya akan menjualnya. Yang seperti ini merupakan harta perniagaan, merupakan harta zakat.

Jika ia menjawab:

Dari pada terpakai, kalau beginikan aman, mungkin suatu saat ada kebutuhan untuk anak-anak, atau butuh membangun diatasnya rumah untuk saya atau anak-anak saya tinggali. Maka yang seperti ini bukan merupakan harta zakat.

Kesimpulannya:

  1. Suatu harta menjadi harta perniagaan jika seseorang berniat berniaga dengan barang tersebut pada saat mendapatkannya.
  2. Niat tersebut adalah niat yang murni untuk berniaga tidak dicampur dengan niat yang lain.

Mengenai zakat harta perniagaan, al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berpendapat tidak ada dalil yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam tentang zakat perniagaan. Namun dalam hal ini dalil yang terkuat adalah ijma’ para ulama dari masa ke masa.

Harta perniagaan jika telah berlalu satu tahun (haul), maka dinilai dengan yang paling menguntungkan bagi kaum muslimin dengan nilai emas atau pun perak. Nisab emas adalah 85gr dan nisab perak adalah 595gr. Ini adalah pendapat Sebagian ulama. Namun pendapat yang kuat adalah dianalogikan ke emas seperti yang sudah kita bahas dalam zakat uang. Karena nilai emas jauh lebih stabil dari nilai perak.

Nilai harta peniagaan yang dihitung adalah nilai harga beli harta tersebut pada hari perhitungan. Misalnya harta perniagaan adalah berupa tanah, ketika membeli tanah tersebut misal harganya adalah Rp. 1.000.000.000,-. Ketika telah sempurna haulnya, nilai beli tanah tersebut (pada hari perhitungan zakat) naik menjadi Rp. 1.500.000.000,-, maka zakatnya adalah Rp. 1.500.000.000,- x 2,5%.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *