Zakat Harta Perniagaan Bagian Kedua

Zakat Harta Perniagaan Bagian Kedua

perniagaan adalah harta yang dipersiapkan untuk diperjualbelikan dengan tujuan keuntungan.

Harta perniagaan (jika telah mencapai nishab) dan telah sampai satu tahun, dinilai dengan nilai yang paling bermanfaat untuk orang-orang miskin dari nilai emas atau perak. Kadar zakat harta adalah 2,5%.

Penjelasan:

Ada 2 (dua) tema yang akan dibahas

  1. Zakat Mawaarid at- Tsahni’ (bahan baku produksi)
  2. Zakat Saham

1. Zakat Mawaarid at- Tsahni’ (bahan baku produksi)

Zakat Mawaarid at- Tsahni’ adalah zakat bahan produksi suatu perusahaan. Seperti developer membangun sebuah perumahan, dimana ia membeli tanah yang luas, kemudian ia bangun diatasnya perumahan. Rumah-rumah yang sudah jadi adalah barang dagangan, karena tujuan membangun rumah-rumah tersebut adalah untuk dijual.

Lalu bagaimana dengan bahan baku yang belum dipakai?

Seperti semen, besi, keramik, batu bata, pasir, genteng yang masih berada digudang atau belum dipakai, maka jika tiba waktu mengeluarkan zakat, bahan-bahan baku tersebut juga termasuk harta zakat, dinilai dari harga pokonya pada saat perhitungan zakat.

Jika ada rumah-rumah yang belum jadi sempurna, seperti baru jadi 70%, 50%, atau 30%, maka juga termasuk harta zakat perniagaan yang dikeluarkan zakatnya. Yang dinilai adalah harga pokok pada saat perhitungan zakat.

Adapun alat-alat kerja yang tidak untuk dijual, seperti dum truk, molen pengaduk semen, crane dan alat-alat kerja yang lain bukan merupakan harta zakat.

Berbeda jenis usaha berbeda jenis bahan baku yang digunakan.

Contoh lain adalah seseorang yang memiliki usaha catering, maka ketika tiba waktu penunaian zakat, yang dihitung bukan uang kes saja, tetapi juga bahan baku yang belum digunakan. Seperti beras 2 ton yang belum digunakan, ayam beku 30 kg, daging beku 50kg, minyak goreng 100 liter, tepung dan lain sebagainya.

Kesalahan yang banyak terjadi adalah orang-orang tidak menghitung bahan baku produksi, melainkan hanya labanya saja. Dan tentu yang seperti ini akibatnya bisa fatal, karena bisa jadi jika yang dikeluarkan labanya saja, bisa jadi zakat yang dikeluarkan baru 20% dari total yang wajib dikeluarkan. Contoh nyata dalam hal ini adalah seorang pengusaha di Indonesia yang ketika jatuh tempo perhitungan zakat, ia memiliki laba Rp. 10.000.000.000,- dan modal yang berputar selama 1 tahun sebesar Rp. 40.000.000.000,-. Namun ia hanya mengeluarkan zakat dari Rp. 10.000.000.000,- sebesar Rp. 250.000.000,-. Padahal semestinya zakat yang ia keluarkan adalah 2,5% dari Rp. 50.000.000.000,- yaitu Rp. 1.250.000.000,-. Kemudian pengusaha tersebut berkata: berarti selama ini saya salah ustadz? Ustadz menjawab ya salah. Dan zakat adalah kewajiban yang tidak cukup bertaubat saja kepada Allah ketika meninggalkannya, karena zakat berkaitan dengan hak-hak fakir miskin . Sehingga zakat-zakat yang telah lalu yang belum ditunaikan masih merupakan tanggungan yang wajib ditunaikan. Sehingga AAOIFI dalam pembahasan zakat menjelaskan bahwa tidak ada pemutihan zakat.

2. Zakat Saham

Saham adalah bagian kepemilikan dari suatu asset.

Mengenai saham yang berada di pasar uang yang diperjualbelikan, maka tentu ini berkaitan dengan bolehkah membeli saham di pasar modal tersebut.2 Saham yang boleh dibeli adalah saham perusahaan yang bergerak dibidang yang halal dan tidak melakukan pinjaman riba. Dalam hal ini bisa dikatakan tidak ada perusahaan yang masuk dalam pasar modal yang bisa dibeli sahamnya. Saham yang boleh dibeli adalah saham perusahaan yang tidak melakukan pinjaman riba, karena pemilik saham adalah pemilik perusahaan yang bertanggung jawab atas perusahaan tersebut. Ketika perusahaan melakukan pinjaman riba, maka berarti pemilik saham mendapatkan dosa melakukan transaksi riba.

Kemudian bagaimana cara mengeluarkan zakat saham?

Ada dua keadaan:

  1. Jika ketika seseorang membeli saham tujuannya adalah untuk menjualnya kembali, maka yang merupakan harta zakat adalah nilai saham tersebut dan juga labanya.
  2. Jika ketika seseorang membeli saham tujuannya hanya untuk mendapatkan labanya saja, maka yang merupakan harta zakat adalah laba dan nilai saham yang merupakan harta zakat. Seperti seseorang memiliki saham pada usaha konveksi sebesar 33%, tentu tidak semua nilai saham tersebut merupakan harta zakat, karena dari total saham usaha konveksi tersebut ada yang berupa mesin jahit, gunting, ruang kerja, mes karyawan dan lain-lain yang merupakan aset alat kerja yang bukan merupakan harta zakat. Seandainya nilai dari saham sebesar 33% adalah Rp. 100.000.000,- dan yang merupakan harta zakat dari saham tersebut adalah 23%, maka yang merupakan harta zakat dari nilai saham adalah 23% dari Rp. 100.000.000,- = Rp. 23.000.000,-. Rp. 23.000.000,- tentu belum mencapai nisab, namun jika ditambah dengan laba dan harta perniagaan yang lain dan mencapai nisab maka dikeluarkan zakatnya 2,5%.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *