Zakat Gaji/Profesi

Zakat Gaji / Profesi

Zakat gaji / profesi terkait dengan zakat uang, karena gaji kaum muslimin dari  pekerjaan mereka pada umumnya adalah uang.

Zakat gaji terkait dengan permasalahan fikih yang dibahas para ulama, yaitu ta’jiiluz  zakaah, yaitu menyegerakan zakat sebelum sempurna haulnya.

Di hari-hari ini kita juga dihimbau kementrian agama untuk mempercepat  pengeluaran zakat dimana musibah (covid-19) sedang melanda Indonesia dan negara  yang lain.

Maka bolehkah mengeluarkan zakat sebelum jatuh tempo haul?

Pertama, bila seseorang belum memiliki uang yang mencapai nishab, maka  berdasarkan ijma’ para ulama dalam hal ini menyegerakan zakat tidak diperbolehkan.

al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (W 620H) mengatakan,

Tidak boleh mendahulukan zakat sebelum harta mencapai nishab, tanpa ada  perbedaan pendapat ulama yang kami tahu. Jika ada orang memiliki harta separuh  nishab, lalu dia menyegerahkan zakat, atau dia bayar zakat satu nishab, hukumnya  tidak boleh. Karena dia mendahulukan hukum sebelum sebab.” (al-Mughni, 2/495)

Yang sering dilakukan oleh Lembaga-lembaga zakat di perusahaan-perusahaan di  Indonesia, di mana mereka mengukur nishab harta seseorang adalah dengan  menghitung gajinya selama satu tahun. Misalnya nishab uang saat ini adalah Rp  80.000.000,-, dibagi 12 bulan menjadi Rp 6.666.666,-. Maka Lembaga zakat  bekerjasama dengan bagian keuangan perusahaan, dengan memotong gaji karyawan  yang gajinya sama dengan atau lebih dari Rp 6.666.666,-, langsung dipotong 2,5%.

Berdasarkan ijma’ para ulama sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Imam Ibnu  Qudamah dalam kasus ini tidak sah sebagai zakat, karena uang belum mencapai  nishab. Bahkan ini merupakan kezaliman, memotong gaji untuk zakat padahal belum  wajib zakat.

Maka zakat gaji yang diperbolehkan adalah jika gaji telah mencapai nishab. Misalnya  gaji seseorang Rp. 20.000.000,-, terpakai setiap bulan Rp. 5.000.000,-. Maka di bulan  pertama sisa gaji adalah Rp.15.000.000,-. Dan di bulan kedua juga sisa gaji  Rp.15.000.000,-. Di Bulan ketiga sisa gaji Rp.15.000.000,-. Dalam 3 bulan ini jumlah  uang adalah Rp.45.000.000,-, belum wajib zakat, seandainya dikeluarkan darinya  2,5% maka tidak dikatakan zakat, melainkan sedekah biasa. Pada bulan keempat jumlah uang menjadi Rp. 60.000.000,-. Pada bulan kelima jumlah uang adalah  Rp.75.000.000,-. Kemudian di bulan ke enam jumlah uang adalah Rp. 90.000.000,-.  Pada bulan ke 6 ini jumlah uang telah mencapai nishab dan sudah mulai menghitung  haul. Anggap saja bulan ke 6 adalah tanggal 10 Rajab, maka haul uang tersebut akan  sempurna pada 10 Rajab tahun yang akan datang. Pada bulan ke 7, 8 dan 9 belum  juga sempurna haulnya, namun ia boleh menyegerakan zakatnya.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Hakim2 rahimahullah dalam kitab al-Mustadrak dan sanadnya disetujui oleh al-Imam adz-Dzahabi3  rahimahullah, sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa al ‘Abbas radhiyallahu ’anhu menyegerakan zakat malnya untuk dua tahun ke depan.

Dengan demikian boleh menyegerakan zakat, yaitu mengeluarkan zakat gaji ketika  sudah mencapai nishab walaupun sebelum sempurna haulnya.

Perlu diketahui juga bahwa Sebagian ulama dalam mazhab Maliki, berpendapat tidak boleh menyegerakan zakat sebelum sempurna haulnya. Seperti Ibnu Rusyd4 dalam  kitab Bidaayatul Mujtahid menjelaskan bahwa zakat adalah ibadah, sama dengan  shalat, sebagaimana tidak boleh menyegerakan shalat sebelum masuk waktu shalat,  maka juga tidak boleh menyegerakan zakat sebelum sempurna haulnya.

Tetapi karena hadits yang menyebutkan bahwa al-Abbas5 radhiyallahu’anhu  menyegerakan zakatnya adalah hadits yang shahih, maka boleh menyegerakan zakat  sebelum sempurna haulnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, ulama mazhab  Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Jumhur ulama juga mengqiyaskan dengan bolehnya  menyegerakan pembayaran hutang sebelum jatuh temponya. Misalnya anda berhutang kepada seseorang senilai Rp. 100.000.000,- dengan jatuh tempo pelunasan pada bulan Dzulqa’dah, berdasarkan ijma’ ulama anda boleh  menyegerakan pelunasannya, misalnya di bulan Ramadhan.

Mudah-mudahan penjelasan ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait  zakat gaji atau zakat profesi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *