Mengeluarkan Zakat dari Harta yang Kualitasnya Pertengahan

Wajib mengeluarkan zakat dari harta yang kualitasnya pertengahan.

Tidak sah zakat dikeluarkan dari harta yang kualitasnya paling jelek.

Tidak wajib mengeluarkan zakat dengan harta yang terbaik, kecuali jika pemiliknya mengkenhendaki.

Diriwayatkan secara marfu’ dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Pada rikaz terdapat kewajiban zakat sebesar 20%“. (Muttafaqun alaih)

Penjelasan:

Telah disampaikan sebelumnya atsar yang shahih yang diiwayatkan al-Imam Malik dalam Kitab al-Muwaththa’, Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mengatakan:

Ini adalah bulan zakat kalian. Barangsiapa punya hutang hendaklah dia menunaikan hutangnya, sehingga harta kalian bisa dihitung dan diambil zakatnya.

Ini menunjukkan pada dasarnya zakat ditarik oleh pihak pemerintah. Dahulu pada masa rasulullah shallallahu’alaihi wasallam petugas penarik zakat utusan pemerintah datang ke kebun-kebun kurma untuk menarik zakatnya. Demikian juga para petugas mendatangi pemilik harta zakat peternakan, seperti kambing dan unta di padang rumput yang luas. Dalam hal ini rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan para penarik zakat, beliau bersabda:

Hindarilah mengambil harta terbaik mereka.” (HR. Ahmad)

Seandainya unta-unta yang ada kewajiban zakatnya, dan diantara unta-unta tersebut ada untaunta pilihan, unta-unta dalam konsisi sangat baik, ada yang sedang dan ada yang kualitasnya rendah. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan para petugas penarik zakat untuk tidak mengambil yang terbaik. Demikian juga penarik zakat tidak boleh menarik harta zakat dari kualitas yang terendah melainkan menarik yang kualitasnya pertengahan.

Demikian juga jika muzaki mengeluarkan harta zakat tanpa melalui tugas penarik zakat, ia tidak harus mengeluarkan harta dengan kualitas yang terbaik, yang wajib adalah ia mengeluarkan yang pertengahan dan tidak mengeluarkan yang kualitasnya paling rendah. Namun jika ia ingin mengeluarkan yang terbaik maka boleh.

Dalam hal ini, Islam memperhatikan psikologi pemilik harta. Kalau harta terbaiknya yang diambil tentu ada perasaan tidak nyaman. Namun jika itu adalah keinginannya maka itu adalah kebaikan darinya.

Diriwayatkan secara marfu’ dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Pada rikaz terdapat kewajiban zakat sebesar 20%. (Muttafaqun alaih)

Marfu’ artinya adalah hadits yang disandarkan kepada nabi shallallahu’alaihi wasallam, baik perkataan beliau, perbuatan beliau atau pun taqriir beliau, dalam ilmu mustholah hadits disebutkan:

Dan apa yang disandarkan kepada nabi shallallahu’alaihi wasallam disebut hadits marfuu’.

Rikaz, Luqatah, & Madin

Rikaz adalah harta pendaman jahiliyah, yang terpendam di dalam bumi. Disebut harta rikaz jika diketahui atau terdapat indikasi bahwa harta tersebut milik orang jahiliyah sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Harta rikaz adalah milik orang yang menemukan. Harta rikaz tidak ada nisabnya, kapan saja ditemukan, sedikit atau pun banyak, selama memiliki nilai maka dikeluarkan zakatnya 20%.

Sebagian ulama berpendapat bahwa harta rikaz bukan merupakan harta zakat.

Apabila harta yang ditemukan adalah milik kaum muslimin atau bukan harta pendaman jahiliyah, maka statusnya adalah harta luqathah. Harus diumumkan selama satu tahun. Jika pemiliknya tidak datang, maka yang orang yang menemukan dapat memilikinya.

Disini penulis tidak menyebutkan zakat al-ma’adin, yaitu zakat barang tambang. Barang tambang yang dimaskud adalah semua yang ada di dalam bumi selain tanah, seperti emas, perak, minyak bumi, bauksit, nikel dan lain sebagainya. Dalam madzhab maliki dan syafi’i yang dimaksud dengan barang tambang yang merupakan harta zakat adalah jika barang tambang tersebut berupa emas dan perak.

Nisab barang tambang sama seperti nilai nisab emas dan zakatnya dikalikan 2,5%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *